Cara Menentukan Populasi dan Sampel Skripsi | MaubisaLewati ke konten utama
Kembali ke Blog
Blog27 Juni 2026·5 menit baca

Cara Menentukan Populasi dan Sampel Penelitian Skripsi

Sering ketuker? Pelajari cara menentukan populasi dan sampel penelitian skripsi, beserta teknik sampling yang tepat agar datamu bisa dipertanggungjawabkan.

Cara Menentukan Populasi dan Sampel Penelitian Skripsi

Cara menentukan populasi dan sampel adalah salah satu keputusan paling krusial dalam skripsi kuantitatif, karena menyangkut siapa yang kamu teliti dan seberapa jauh hasilmu bisa digeneralisasi. Salah menentukan populasi atau salah mengambil sampel bisa membuat seluruh kesimpulanmu dipertanyakan, sekuat apa pun analisis statistik yang kamu lakukan setelahnya.

Banyak mahasiswa masih tertukar antara populasi dan sampel, atau asal menentukan jumlah responden tanpa dasar yang jelas. Di artikel ini kita bahas beda populasi dan sampel, teknik pengambilan sampel, cara menentukan jumlahnya, sampai kesalahan yang sering bikin bagian ini kena revisi.

Beda Populasi dan Sampel

Secara sederhana, populasi adalah keseluruhan kelompok yang ingin kamu tarik kesimpulannya, sedangkan sampel adalah bagian kecil dari populasi yang benar-benar kamu ambil datanya. Kamu meneliti sampel, tapi kesimpulanmu ditujukan untuk populasi. Karena itu, sampel harus benar-benar mewakili populasi agar hasilnya bisa digeneralisasi dengan sah, bukan sekadar berlaku untuk responden yang kebetulan kamu temui.

Menentukan Populasi dengan Jelas

Langkah pertama adalah mendefinisikan populasi secara spesifik, lengkap dengan batasannya. Misalnya bukan sekadar mahasiswa, tapi mahasiswa aktif jurusan tertentu di kampus tertentu pada tahun tertentu. Batasan yang jelas akan memudahkanmu menentukan kerangka sampel dan menghindari kebingungan saat menghitung jumlah sampel. Populasi yang kabur hampir selalu berujung pada sampel yang juga tidak jelas.

Memilih Teknik Pengambilan Sampel

Ada dua kelompok besar teknik sampling: probability sampling yang memberi peluang sama pada tiap anggota populasi, dan non-probability sampling yang lebih praktis tapi kurang bisa digeneralisasi. Pilih teknik yang sesuai dengan tujuan dan kondisi penelitianmu, lalu jelaskan alasannya di Bab 3. Penguji akan menanyakan kenapa kamu memilih teknik tertentu, jadi siapkan justifikasinya.

Menghitung Jumlah Sampel

Jumlah sampel tidak boleh ditentukan secara asal. Kamu bisa memakai rumus seperti Slovin atau tabel penentuan sampel yang umum dipakai, dengan mempertimbangkan besar populasi dan tingkat kesalahan yang bisa diterima. Yang penting, kamu bisa menjelaskan dari mana angka sampelmu berasal. Jumlah sampel yang terlalu kecil membuat hasil kurang meyakinkan, sementara yang terlalu besar bisa membebani proses pengumpulan data.

Memastikan Sampel Representatif

Representativitas adalah kunci. Sampel yang bias, misalnya hanya mengambil responden yang mudah dijangkau, bisa membuat hasilmu tidak mencerminkan populasi sebenarnya. Usahakan proses pemilihan sampel seobjektif mungkin sesuai teknik yang kamu pilih, dan catat prosesnya dengan rapi agar bisa kamu pertanggungjawabkan saat sidang. Sampel yang representatif membuat generalisasimu jauh lebih kuat.

Kesalahan yang Sering Terjadi

Kesalahan umum di bagian ini antara lain tertukar antara populasi dan sampel, menentukan jumlah sampel tanpa dasar, memilih teknik sampling yang tidak sesuai, dan mengambil sampel yang jelas-jelas bias. Menentukan populasi dan sampel dengan benar sejak awal akan membuat seluruh proses pengumpulan dan analisis datamu berjalan jauh lebih lancar.

Butuh Kepastian Soal Sampelmu?

Keputusan soal populasi dan sampel berdampak besar pada validitas penelitianmu. Kalau kamu ragu apakah teknik dan jumlah sampelmu sudah tepat, berdiskusi dengan mentor bisa mencegah revisi besar di kemudian hari. Tim layanan Akademik Maubisa siap membantumu memastikannya.

Contoh Menentukan Populasi dan Sampel

Agar lebih jelas, bayangkan kamu ingin meneliti kepuasan mahasiswa terhadap layanan perpustakaan di sebuah kampus. Populasimu bisa didefinisikan sebagai seluruh mahasiswa aktif kampus tersebut pada semester berjalan, misalnya berjumlah dua ribu orang. Karena tidak mungkin menyebar kuesioner ke semuanya, kamu mengambil sampel. Dengan rumus penentuan sampel dan tingkat kesalahan yang wajar, kamu mungkin mendapatkan angka sekitar tiga ratus mahasiswa sebagai jumlah sampel yang representatif.

Langkah berikutnya adalah menentukan bagaimana tiga ratus mahasiswa itu dipilih. Kalau kamu ingin hasil yang bisa digeneralisasi, gunakan teknik probability sampling, misalnya memilih responden secara acak dari daftar mahasiswa tiap fakultas secara proporsional. Dengan begitu, semua fakultas terwakili dan sampelmu tidak berat sebelah. Contoh sederhana ini menunjukkan bagaimana populasi, jumlah sampel, dan teknik pengambilan sampel saling terkait dan harus dijelaskan secara runtut di Bab 3.

Menentukan Kriteria Inklusi dan Eksklusi

Selain menentukan jumlah dan teknik sampling, kamu juga perlu menetapkan kriteria inklusi dan eksklusi, yaitu syarat yang menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh menjadi responden. Kriteria inklusi adalah karakteristik yang wajib dimiliki responden, misalnya mahasiswa aktif yang sudah menempuh mata kuliah tertentu. Sementara kriteria eksklusi menyaring mereka yang tidak sesuai konteks penelitian, misalnya mahasiswa yang sedang cuti kuliah.

Menetapkan kriteria ini penting untuk menjaga agar datamu benar-benar relevan dengan tujuan penelitian. Tanpa kriteria yang jelas, kamu berisiko mengumpulkan data dari responden yang sebenarnya tidak mewakili populasi yang kamu maksud. Tuliskan kriteria ini secara eksplisit di Bab 3 agar proses pemilihan sampelmu transparan dan bisa dipertanggungjawabkan, sekaligus memudahkan peneliti lain memahami batasan penelitianmu.

Menangani Populasi yang Sulit Dijangkau

Tidak semua populasi mudah dijangkau. Kadang kamu meneliti kelompok yang jumlahnya sedikit, tersebar, atau sulit diakses, misalnya pelaku profesi tertentu atau komunitas khusus. Dalam situasi seperti ini, teknik non-probability sampling seperti purposive atau snowball sampling bisa menjadi solusi yang realistis.

Snowball sampling bekerja dengan meminta responden awal merekomendasikan responden lain yang sesuai kriteria, sehingga sampelmu bertumbuh seperti bola salju. Meski kurang bisa digeneralisasi, teknik ini sah dipakai selama kamu menjelaskan alasannya dengan jujur di Bab 3. Yang penting, transparan soal keterbatasan yang muncul dari pilihan tersebut.

Ukuran Sampel Menyesuaikan Jenis Analisis

Ukuran sampel yang ideal juga bergantung pada jenis analisis yang kamu pakai. Analisis yang lebih kompleks, seperti model dengan banyak variabel, umumnya menuntut jumlah sampel yang lebih besar agar hasilnya stabil. Sebaliknya, penelitian sederhana bisa cukup dengan sampel yang lebih kecil, asalkan tetap representatif.

Karena itu, jangan hanya berpatokan pada satu rumus tanpa mempertimbangkan metode analisismu. Cari tahu rekomendasi ukuran sampel minimal untuk jenis uji yang kamu rencanakan. Menyiapkan sampel yang memadai sejak awal mencegah masalah di tahap analisis, saat kamu baru sadar datanya terlalu sedikit untuk diuji.

Selalu antisipasi kemungkinan sebagian responden tidak mengembalikan kuesioner atau mengisi asal. Karena itu, banyak peneliti menyebar kuesioner lebih banyak dari target minimal sebagai cadangan. Langkah kecil ini menyelamatkanmu dari kekurangan data yang bisa menghambat seluruh proses penelitian di kemudian hari.

Poin Penting yang Perlu Diingat

Ingat kembali hal-hal penting dalam menentukan populasi dan sampel:

  • Bedakan populasi sebagai keseluruhan dan sampel sebagai bagiannya.
  • Definisikan populasi secara spesifik lengkap dengan batasannya.
  • Pilih teknik sampling yang sesuai tujuan penelitian.
  • Tentukan jumlah sampel dengan dasar yang jelas.
  • Pastikan sampel representatif agar hasilnya bisa digeneralisasi.

Menentukan keduanya dengan benar sejak awal membuat pengumpulan dan analisis datamu jauh lebih lancar.

Referensi