Rekap Kopdar Circle Maubisa Jakarta: Think with Purpose | MaubisaLewati ke konten utama
←Kembali ke Berita
Berita9 September 2026·10 menit baca

Rekap Kopdar Circle Maubisa Jakarta: Think with Purpose, Finding Your Identity Before Speaking Up

Rekap Kopdar Circle Maubisa Jakarta: tema Think with Purpose, tiga sesi inti, suasana hangat, dan info cara ikut kopdar berikutnya.

Rekap Kopdar Circle Maubisa Jakarta: Think with Purpose, Finding Your Identity Before Speaking Up

Senin, 29 September 2026, Jakarta. Kopdar Circle Maubisa Jakarta kembali digelar Sabtu lalu di Tujuh Origin, Gambir, Jakarta Pusat. Tema yang diangkat kali ini: "Think with Purpose: Finding Your Identity Before Speaking Up". Seperti kopdar-kopdar sebelumnya, acara ini gratis, terbatas hanya untuk 10 peserta, dan tetap disertai snack gratis untuk semua yang hadir.

Kopdar Circle adalah program komunitas rutin Maubisa yang memang dirancang sebagai ruang diskusi santai untuk pengembangan diri. Bukan seminar formal, bukan kelas dengan materi tebal. Formatnya sederhana: sekelompok kecil orang, satu tema yang menggali ke dalam diri, dan diskusi yang berlangsung hangat sampai selesai. Dan Sabtu lalu, tema yang diangkat bukan tema ringan: identitas diri sebelum bicara.

Kenapa Tema Identitas Diri?

Kalau kamu sering merasa mau ngomong atau bikin konten tapi mendadak tertahan karena belum yakin sama identitas diri sendiri, kamu nggak sendirian. Ini salah satu struggle yang paling sering muncul di komunitas Maubisa, terutama di kalangan mahasiswa tingkat akhir dan fresh graduate yang sedang mencari posisi dirinya di dunia. Gejalanya beragam: mau posting sesuatu tapi dihapus berulang kali sebelum tayang, mau angkat tangan di kelas tapi tangannya terasa berat, atau mau bicara di meeting tapi mendadak lupa semua poin yang sudah disiapkan semalaman.

Psikolog Erik Erikson menempatkan pencarian identitas sebagai tugas perkembangan inti di fase remaja hingga dewasa awal, yang ia sebut identity versus role confusion. Menurut teorinya yang diterbitkan dalam karya klasik Identity and the Life Cycle, orang yang belum menuntaskan fase ini cenderung bingung dengan perannya sendiri, dan kebingungan itu terasa paling kuat saat mereka harus tampil di depan publik. Ini bukan sekadar teori di atas kertas. Di lapangan, kami melihatnya setiap kali mengadakan sesi diskusi: peserta yang paling pendiam sering kali bukan yang tidak punya pendapat, tapi yang belum yakin apakah pendapatnya "layak" dibagikan.

Penelitian Albert Bandura tentang self-efficacy juga menunjukkan bahwa keyakinan akan kemampuan diri sering lebih menentukan performa daripada kemampuan itu sendiri. Dalam papernya yang diterbitkan di Psychological Review, Bandura menjelaskan bahwa orang dengan keyakinan tinggi pada kemampuannya cenderung mendekati tugas yang menantang sebagai sesuatu yang bisa dikuasai, sementara orang dengan keyakinan rendah cenderung melihatnya sebagai ancaman yang harus dihindari. Artinya, dua orang dengan skill komunikasi yang persis sama bisa tampil sangat berbeda di depan orang, tergantung seberapa yakin mereka pada identitas mereka sendiri. Yang satu tampil tenang dan runtut, yang lain gagap dan kosong, padahal materinya sama-sama sudah siap.

Itulah kenapa tema ini dipilih. Bukan untuk jadi kuliah psikologi, tapi supaya peserta bisa membedah akar masalahnya bareng, bukan cuma gejalanya. Karena selama akarnya belum disentuh, semua teknik public speaking di dunia cuma jadi plester di luka yang lebih dalam. Kamu bisa tahu cara bernapas, cara berdiri, cara menatap audiens, tapi kalau di dalam kepalamu terus ada suara "aku nggak layak bicara", teknik itu nggak akan pernah cukup.

Tiga Sesi Inti yang Bikin Peserta Betah

Acara berlangsung dari pukul 15.30 sampai 18.00 WIB, dan dibagi menjadi tiga sesi inti yang masing-masing punya tujuan berbeda. Struktur ini sengaja dirancang supaya ada alur: mulai dari membuka diri, menggali ke dalam, lalu menutup dengan koneksi. Setiap sesi dibangun di atas sesi sebelumnya, jadi peserta yang datang dengan rasa cemas di awal biasanya sudah jauh lebih rileks di sesi kedua.

Safe-Space Discussion

Sesi pembuka dirancang sebagai tempat aman untuk curhat dan diskusi. Peserta diajak berbagi pengalaman seputar tema yang diangkat, tanpa takut dihakimi. Banyak yang mengaku ini bagian favorit mereka, karena topik seperti "belum yakin sama identitas diri sendiri" jarang bisa dibahas terbuka di tempat lain. Di kampus, takut dinilai. Di media sosial, takut dikomentari. Di lingkungan keluarga, takut disalahpahami. Di sini, semua orang di ruangan sedang menghadapi hal yang sama, dan itu sendiri sudah menenangkan.

Pendekatan ini sejalan dengan temuan penelitian tentang dukungan sosial. Cohen dan Wills dalam penelitian klasik mereka yang diterbitkan di Psychological Bulletin menjelaskan bahwa dukungan sosial berfungsi sebagai penyangga (buffer) terhadap stres, dan keberadaan orang-orang yang menghadapi struggle serupa secara konsisten menurunkan beban psikologis. Dalam konteks kopdar, efeknya terasa nyata: begitu satu orang berani cerita, yang lain langsung ikut terbuka. Satu cerita jadi pintu untuk sepuluh cerita lain. Dan di akhir sesi, yang tadinya cuma mau "dengar-dengar aja" biasanya sudah ikut bicara.

Mirror Method Practice

Sesi kedua adalah latihan praktik menemukan identitas diri. Peserta diajak mengenali dirinya lewat serangkaian pertanyaan reflektif dan latihan sederhana yang bisa dilanjutkan di rumah. Latihan pertama: menjawab pertanyaan "siapa aku?" sampai lima kali berturut-turut, tanpa mikir terlalu lama. Tujuannya menembus jawaban permukaan seperti "aku mahasiswa" atau "aku anak pertama" sampai ke jawaban yang lebih dalam seperti "aku orang yang peduli sama pertumbuhan orang lain". Jawaban di lapisan terdalam itulah yang jadi fondasi identitas sebagai pembicara.

Latihan kedua: mengenali nilai-nilai yang dipegang. Peserta diajak mengingat momen ketika mereka merasa kesal karena sesuatu dilanggar, dan momen ketika mereka merasa bangga karena sesuatu yang mereka lakukan. Pola dari jawaban-jawaban itu adalah nilainya. Misalnya, kalau kamu kesal saat orang bicara setengah-setengah, mungkin nilaimu kejujuran. Kalau kamu bangga saat bisa bantu orang paham sesuatu yang sulit, mungkin nilaimu kejelasan. Dan saat bicara dari nilai, bukan dari keinginan disukai, suara seseorang otomatis lebih tegas dan tenang.

Metode ini terinspirasi dari teknik self-affirmation yang dikembangkan Claude Steele, yang dalam penelitiannya yang diterbitkan di Advances in Experimental Social Psychology menunjukkan bahwa mengingatkan orang pada nilai-nilai inti yang mereka pegang dapat menurunkan kecemasan dan meningkatkan performa, bahkan di situasi yang menekan. Tujuan latihan ini jelas: bukan cuma dapat insight saat acara, tapi punya alat yang bisa dipakai terus setelah acara selesai. Peserta pulang membawa kerangka berpikir, bukan cuma perasaan hangat yang lupa besok pagi.

Networking Session

Sesi penutup jadi momen kenalan bareng teman-teman sefrekuensi. Dari sesi ini biasanya lahir koneksi baru antar peserta yang ternyata punya minat dan struggle yang mirip. Beberapa peserta kopdar sebelumnya bahkan lanjut kolaborasi di luar acara, dari bikin konten bareng sampai saling support di proyek masing-masing. Ada juga yang jadi accountability partner satu sama lain, saling menagih progres belajar mingguan lewat chat. Koneksi seperti ini jarang terbentuk di acara besar, karena di acara besar orang cenderung bertukar nama, bukan bertukar cerita.

Exclusive Teaser untuk Program Puncak Maubisa

Sebagai bonus, peserta mendapat exclusive teaser: intipan spesial tentang program puncak Maubisa yang sedang disiapkan. Ini tradisi di setiap Kopdar Circle, peserta komunitas selalu jadi yang pertama tahu tentang apa yang sedang Maubisa bangun di belakang layar. Detailnya masih rahasia, tapi yang jelas program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan yang paling sering muncul dari diskusi komunitas. Yang bisa kami bocorkan: program ini akan menggabungkan pendampingan personal dengan ekosistem belajar yang lebih terstruktur, dan peserta kopdar kemarin sudah melihat sekilas arahnya.

Suasana dan Keseruan Acara

Rekap singkat dari tim Maubisa yang mendampingi: seru, rame, hangat, dan pastinya banyak insight daging yang didapat dari hasil deep talk bareng-bareng. Format kelompok kecil memang sengaja dipilih supaya setiap peserta benar-benar kebagian ruang bicara, bukan cuma jadi pendengar. Dari 10 kursi yang disediakan, diskusi berjalan aktif dari sesi pertama sampai sesi terakhir. Nggak ada momen canggung panjang, nggak ada yang dominasi bicara, dan nggak ada yang nyerah di tengah jalan.

Peserta Kopdar Circle Maubisa Jakarta berkumpul bersama tim Maubisa di Tujuh Origin, Gambir

Yang bikin beda dari acara serupa: nggak ada hierarki. Semua orang di ruangan, termasuk tim Maubisa, duduk setara dan saling mendengarkan. Ini bukan acara "pembicara dan audiens", tapi "teman diskusi". Dan justru format inilah yang bikin peserta berani buka suara. Banyak dari mereka yang di awal bilang "aku biasanya cuma diam di acara begini", tapi di akhir sesi sudah aktif memimpin diskusi kecil. Perubahan itu terjadi dalam waktu dua setengah jam, dan itu bukan karena magic, tapi karena lingkungan yang memang dirancang untuk itu.

Terima kasih untuk semua peserta yang sudah hadir dan berbagi cerita. Sampai ketemu di kegiatan dan event Maubisa berikutnya.

Kenapa Komunitas Itu Penting untuk Pengembangan Diri

Di luar keseruan acara, ada alasan yang lebih dalam kenapa Maubisa rutin menggelar kopdar seperti ini. Penelitian di bidang psikologi perkembangan menunjukkan bahwa identitas diri sering terbentuk lewat interaksi sosial. Kita menemukan diri kita lewat cermin orang lain: bagaimana mereka merespons, apa yang mereka apresiasi, di mana kita merasa diterima. Komunitas yang aman memberi ruang untuk mencoba versi diri yang baru tanpa takut dihakimi.

Di sinilah letak kekuatan format kopdar kecil. Di lingkungan yang aman, kamu bisa mencoba bicara tanpa takut dihakimi, dapat umpan balik yang jujur, dan melihat orang lain yang sedang di jalur yang sama. Rasa "aku nggak sendirian" ini sendiri sudah menurunkan beban psikologis. Dan dari titik itu, perubahan mulai jalan. Bukan perubahan drastis, tapi perubahan yang nyata: dari yang cuma diam jadi berani cerita, dari yang takut dinilai jadi mulai berani jadi diri sendiri.

Tips Praktis dari Diskusi yang Bisa Kamu Coba di Rumah

Buat kamu yang nggak bisa hadir Sabtu lalu, ini tiga hal yang dibahas di sesi dan bisa langsung kamu praktikkan sendiri malam ini juga:

  • Tulis jawabanmu atas "siapa aku?" lima kali. Jawab tanpa mikir lama, lalu lihat polanya. Jawaban di lapisan terdalam biasanya yang paling jujur, dan itu fondasi identitasmu sebagai pembicara. Kalau jawabanmu berhenti di "aku mahasiswa semester akhir", coba tanya lagi: mahasiswa yang seperti apa? Yang peduli ke apa? Di situlah identitas mulai terlihat.
  • Kenali nilaimu dari dua pertanyaan sederhana. Apa yang bikin kamu kesal kalau dilanggar orang lain? Apa yang bikin kamu bangga kalau kamu lakukan? Jawaban-jawaban itu adalah nilaimu, dan bicara dari nilai membuat suaramu lebih tegas. Orang yang bicara dari nilai nggak gampang goyah, karena dia tahu kenapa dia bicara, bukan cuma bagaimana caranya bicara.
  • Rekam dirimu bicara 2-3 menit tanpa naskah. Lalu tonton. Tidak nyaman di awal itu normal, tapi di situ kamu mulai kenal "dirimu yang bicara": gaya, ritme, dan ekspresimu. Makin akrab dengan diri sendiri, makin nggak gampang goyah saat ada yang menatap. Latihan ini kelihatannya sepele, tapi efeknya menumpuk kalau dilakukan rutin.

Kesalahan Umum yang Sering Muncul Saat Mencoba

Sebelum kamu mulai praktik, ada beberapa jebakan yang sering bikin orang berhenti di tengah jalan. Pertama, mengira identitas itu harus ditemukan sekali jadi. Identitas bukan harta karun yang sekali ketemu langsung selesai. Ia lebih seperti tanaman: tumbuh pelan, butuh dirawat, dan berubah seiring waktu. Jangan panik kalau jawabanmu hari ini beda dengan jawabanmu setahun lagi. Itu tanda kamu bertumbuh, bukan tanda kamu gagal.

Kedua, menunggu rasa percaya diri datang dulu, baru bicara. Urutannya justru kebalik. Percaya diri itu hasil, bukan syarat. Kamu bicara dulu (walau gemetar), lalu percaya diri tumbuh dari pengalaman itu. Kalau kamu menunggu percaya diri dulu, kamu akan menunggu selamanya, karena percaya diri yang dipaksakan dari luar tanpa pengalaman nyata nggak pernah bertahan lama.

Ketiga, membandingkan bab awalmu dengan bab akhir orang lain. Kamu lihat kreator yang lancar bicara di depan ribuan orang, lalu merasa dirimu jauh di belakang. Yang kamu nggak lihat: dia juga pernah gagap di depan lima orang. Setiap orang punya titik mulainya sendiri, dan membandingkan titik mulaimu dengan puncak orang lain cuma bikin kamu berhenti sebelum mulai.

Ingin Ikut Kopdar Berikutnya?

Kopdar Circle Maubisa Jakarta digelar rutin dengan tema yang selalu berbeda, mulai dari identitas diri, komunikasi, sampai persiapan karier. Kapasitas selalu terbatas supaya kualitas diskusinya terjaga, jadi kalau kamu tertarik, pantau terus akun Instagram @maubisa.id atau tanya jadwal terbarunya langsung ke tim kami lewat WhatsApp.

Untuk kamu yang ingin pendampingan pengembangan diri yang lebih personal dan terstruktur, bukan cuma sekali kopdar, program Pengembangan Diri Maubisa dirancang untuk itu: dari mengenal diri, membangun kepercayaan diri, sampai melatih komunikasi lewat pendampingan 1-on-1.

Referensi

Artikel Terkait